Istilah paling trendi dalam bisnis sekarang adalah startup. Di pusat-pusat teknologi seperti Silicon Valley, Singapura, dan startup hub di berbagai penjuru dunia banyak yang memulai startup mereka sendiri. Di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta dan Bandung banyak anak muda yang juga memulai startup.

Kita membayangkan seorang founder dan mereka yang bekerja dalam sebuah startup bergaya kasual: mengenakan hoodie dan sneaker. Mereka bahkan pergi meeting bisnis dengan pakaian kasual, kantor mereka dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas rekreasi seperti sofa empuk, meja bilyar, dan pingpong, sambil menikmati pizza bersama-sama, mereka juga bertukar pikiran dengan penuh antusias tentang inovasi terbaru yang akan mengubah wajah dunia. Tidak ada jarak, sistem komando, dan kontrol yang kaku antara para founder dengan para pekerja membuat kita membayangkan betapa nikmatnya kehidupan sebuah startup.

Apa itu Startup?

Definisi paling popular tentang startup adalah perusahaan rintisan, biasanya dengan jumlah pegawai kurang dari 100 orang, dan bergerak dalam bidang teknologi yang mengembangkan produk atau jasa yang inovatif. Meski tidak sepenuhnya salah, namun definisi itu belum menjelaskan seluruh filosofi startup.

Dalam buku The Startup Owner’s Manual, Steve Blank, seorang entrepreneur sekaligus pendidik yang terpandang mendefinisikan startup sebagai sebuah organisasi sementara yang dibangun dengan tujuan mencari dan menemukan model bisnis yang profitable, repeatable, dan scalable. Ketika sebuah startup menemukan dan berhasil mendemonstrasikan model bisnis itu, startup akan bertransformasi menjadi perusahaan yang lebih terstruktur.

Eric Ries dalam buku The Lean Startup merangkumnya menjadi: sebuah startup adalah institusi manusia yang dirancang untuk menciptakan sebuah produk atau jasa baru dalam kondisi ketidakpastian yang ekstrim.

Kedua rumusan di atas sama sekali tidak menyinggung ukuran perusahaan, jenis industri, dan sektor ekonomi. Hal-hal itu tidak ada urusannya dengan status startup. Maka setiap orang yang menciptakan produk atau bisnis baru dalam kondisi ketidakpastian yang ektrim layak disebut startup, terlepas dia bekerja dalam badan pemerintahan, perusahaan mapan, organisasi non-profit, atau perusahaan berorientasi profit yang didanai investor.

Hal penting sekaligus rumit dari definisi startup adalah bahwa produk atau jasa yang mereka kembangkan merupakan buah dari inovasi. Secara luas, produk adalah segala sumber nilai (value) yang ditawarkan kepada calon konsumen. Semua yang konsumen alami mulai dari interaksi dengan perusahaan harus diperhitungkan sebagai bagian dari produk yang ditawarkan perusahaan. Setiap organisasi harus berupaya untuk menemukan sumber-sumber value baru dan menaruh perhatian pada dampak dari produk tersebut bagi konsumen.

Untuk menciptakan nilai-nilai baru itu, startup menggunakan berbagai macam inovasi mulai dari penemuan teknologi paling mutakhir, memanfaatkan teknologi yang sudah ada untuk penggunaan baru, merancang sebuah model bisnis yang mampu mengungkapkan value-value yang tersembunyi, atau bahkan sesederhana menghadirkan produk atau jasa yang sudah ada ke lokasi baru atau kepada target pasar yang belum dilayani. Inovasi merupakan kunci keberhasilan sebuah perusahaan.

Inovasi-inovasi yang dibawa startup berpotensi menimbulkan gangguan (disruption) pada apa, di mana, berapa, kapan, dan bagaimana konsumen mengonsumsi produk atau jasa. Disruption ini tidak serta merta menjadikan startup berada di atas angin, sebaliknya startup berada dalam keadaan yang penuh dengan ketidakpastian:

  1. Mampukah produk atau jasa memecahkan masalah yang dihadapi konsumen sehingga dapat diterima oleh pasar?
  2. Bersediakah konsumen mengeluarkan uang untuk menikmati produk atau jasa itu?
  3. Sanggupkah model bisnis yang dirancang mengembangkan skala perusahaan?

Startup Tidak Sama dengan Usaha Kecil

Memperlakukan startup sebagai bisnis atau usaha kecil dapat berdampak serius karena ada perbedaan konseptual yang besar antara keduanya. Startup dengan segala inovasi yang dibawanya menempatkan diri pada kondisi ketidakpastian yang tinggi, penuh risiko mulai dari kegagalan pengembangan produk sampai risiko tidak diterima oleh pasar. Sedangkan usaha kecil dapat dirintis dengan meniru bisnis yang sudah ada.

Membangun bisnis baru, baik ukuran kecil maupun besar, dengan meniru model bisnis, strategi harga, target konsumen, dan produk yang sudah ada tidak bisa disebut startup. Prospek bisnis seperti ini sudah dapat diperhitungkan melalui suatu model yang akurat sehingga pada akhirnya keberhasilan bisnis akan kembali pada bagaimana eksekusi dilakukan. Ini adalah alasan mengapa bisnis-bisnis kecil lebih mudah mendapatkan dana dari pinjaman bank, sebab tingkat risikonya mudah diperhitungkan dan dipahami oleh pihak pemberi pinjaman.

Internal Startup

Perusahaan-perusahaan besar memiliki dilemanya sendiri, agar dapat beroperasi dengan efisien mereka butuh institusi dengan birokrasi yang kaku, namun untuk terus bertahan dalam persaingan, mereka harus terus-menerus berinovasi. Birokrasi pada gilirannya akan menghambat proses kreatif yang diperlukan untuk berinovasi, para pekerja harus diberi keleluasaan dan tidak dibebani dengan administrasi jika inovasi ingin tumbuh dengan subur.

Usaha mempromosikan inovasi dalam perusahaan yang sudah matang dilakukan dengan cara membeli startupstartup atau dengan membentuk “internal startup”, sebuah divisi bisnis baru yang beroperasi secara independent. Internal startup dapat dipimpin oleh seorang general manager yang paham lika-liku politik perusahaan, sanggup membangun divisi bisnis otonom dengan aliran profit yang terpisah dari perusahaan induknya, dan mampu menjadi bumper bagi timnya yang eksentrik dari campur tangan pihak perusahaan.

Pemimpin startup berkerah putih ini dikenal dengan istilah intrapreneur, yaitu seorang entrepreneur yang beroperasi di dalam organisasi yang sudah mapan. Baik intrapreneur dan entrepreneur sama-sama visioner. Mereka mampu melihat masa depan industri, dan siap mengambil risiko untuk menemukan solusi-solusi baru bagi tantangan-tantangan yang dihadapi perusahaan mereka.

Penting diingat bahwa startup tidak melulu mengenai produk, terobosan teknologi, dan ide cemerlang. Startup lebih besar dari gabungan ketiga hal tersebut. Agar menjadi berhasil, startup harus membangun institusi: merekrut pekerja-pekerja yang kreatif, mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan mereka, dan menciptakan budaya perusahaan yang berorientasi pada hasil. Dalam hal ini para intraprenenur memiliki kemampuan, pengalaman serta dukungan sumber daya yang diperlukan untuk berhasil.